Pemanfaatan energi listrik diatur dalam peraturan pemerintah Nomor 3 Tahun 2005 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1989 dan diperkuat lagi dengan peraturan pemerintah nomor 26 Tahun 2006 yang mengatur tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik. Pengelompokan bidang usaha ketenagalistrikan dibagi menjadi dua kelompok besar sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang ketenagalistrikan, yaitu usaha penyedia dan penunjang ketenagalistrikan. Usaha penyedia ketenagalistrikan terdiri dari Sistem usaha pembangkit tenaga listrik, sistem transmisi tenaga listrik, sistem distribusi tenaga listrik, dan sistem pemanfaatan tenaga listrik. Usaha penunjang ketenagalistrikan terdiri dari usaha jasa penunjang tenaga listrik dan usaha industri penunjang tenaga listrik.
Secara umum, sistem tenaga listrik mulai dari pusat-pusat pembangkit menuju pusat-pusat beban, melalui sistem transmisi dan sitem distribusi tenaga listrik dapat dilihat pada gambar berikut ini:
PLTA Cirata yang dapat membangkitkan listrik rata-rata
sebesar 1.428 juta kilowatt jam per tahun ini memanfaatkan potensi sungai
Citarum yang letaknya di wilayah Kabupaten Bandung. Selain PLTA Cirata juga
terdapat PLTA Saguling dan Jatiluhur yang memanfaatkan aliran Sungai Citarum.
PLTA Cirata dibangun sejak bulan Januari 1984 merupakan PLTA terbesar di Asia
Tenggara. Pada akhir bulan September 1988 telah dapat dioperasikan dengan
kapasitas penuh melalui kedelapan turbin dan generatornya total daya terpasang
nya 1008 MW untuk 8 unit pembangkit ini. Karakteristik bendungan yang dibangun
untuk pembangkit di Waduk Cirata ini bertipe urugan batu dengan permukaan
berlapis beton sebagai bahan kedap air setinggi 125 meter, dengan ketinggian
maksimum 223 meter di atas permukaaan laut. Waduk cirata ini dibangun dengan
luas 62 km2 dengan elevasi
muka air banjir 233 m, elevasi muka air normal 220 m dan elevasi muka ir
terendah 205 m, sehingga volume air waduk 2.165
juta m3 dan isi efektif waduk 796 juta m3. Air waduk ini
dikelola sedemikian rupa agar sedimen tidak mengganggu/ merusak mesin-mesin
pembangkit.
Tenaga
listrik ini diperoleh melalui proses yang terlihat pada gambar-gambar di bawah
ini. Pertama-tama air masuk melalui saluran masuk (intake) melalui Headrace
Tunnel sebelum memasuki surge tank (tangki peredam) sebagai penahan
air sebelum air jatuh melalui penstock dengan ketinggian yang telah disesuaikan
agar dihasilkan energi listrik dari energi potensial air yang memutar turbin
dan selanjutnya generator mengubah energi kinetik turbin menjadi energi listrik.
Generator dan
turbin ini berada pada powerhouse.
Operasi PLTA Cirata dikendalikan dari ruang kontrol di
switchyard yang berjarak 2 km dari mesin-mesin pembangkit di rumah pembangkit (power
house) yang berada di dalam tanah. Sistem tersebut dimungkinkan dengan
adanya unit mikro processor ASCE (Automatic
Sequnence Control Equipment) dan unit komputer SCE (Supervisory Control Equipment) yang berfungsi mengatur/ mengawasi
jalanya mesin pembangkit. Pada bendungan cirata terdapat Dam Control Centre yang dilengkapi dengan Hydrological Monitoring Telemetering System yang berfungsi untuk
memantau secara tepat waktu (Real Time)
kondisi Hidrometeorogi di Catchment Area,
tinggi muka air waduk, debit air yang masuk waduk, debit air yang masuk waduk,
meramalkan banjir yang akan tiba, dan
memberikan sinyal bila hujan yang masuk melebihi batas tertentu. Selain
itu, ditempatkan 12 buah Discharge
Warning Station yang digunakan untuk memberikan peringatan kepada
masyarakat bila air akan dikeluarkan dari waduk maupun dari pusat pembangkit.
Selain pengaturan operasional waduk, pengaturan sumber daya manusia
yang bekerja di lingkungan PT.PJB ini juga merupakan kegiatan yang tidak dapat
diabaikan. Dalam menjalankan kerja, prinsip safety first menjadi pedoman
bagi karyawan. Selain itu, pola kerja 5s juga menjadi pedoman yang tidak kalah
pentingnya. Filosofi 5s ini yaitu Seiri
(Ringkas, yaitu buang yang tidak perlu), Seiton
(Rapih, yaitu letakkan barang ditempatnya), Seiso
(Resik, yaitu menjaga kelestarian barang), Seiketsu
(Rawat, yaitu melakukan segala sesuatunya secara terus menerus) dan Seitsuke (rajin, membudayakan nya mulai
dari diri kita sendiri) merupakan pola kerja yang diadopsi dari pola pikir
jepang. Tujuan penerapan filosofi ini adalah untuk mencapai tempat kerja yang
efektif dan prosedur kerja yang terstandardisasi. Dengan sistem pengelolaan
yang terintegrasi ini, maka diharapkan PT.PJB Unit Cirata ini dapat memenuhi kebutuhan listrik
bagi setiap masyarakat.
PLTA Cirata merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Tetapi
tetap memiliki unsur resiko yang besar pula. Dari sisi Geografis dengan kapasitas bendungan yang
besar pada PLTA Cirata, maka terdapat resiko yang besar pula jika sewaktu-waktu
terdapat kerusakan pada bendungan.
Gambar di atas memperlihatkan posisi bendungan cirata
yang berada di tengah antara bendungan saguling dan bendungan juanda.
------------------------------------------------------------------






Tidak ada komentar:
Posting Komentar