Rabu, 23 Desember 2015


Pemanfaatan energi listrik diatur dalam peraturan pemerintah Nomor 3 Tahun 2005 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1989 dan diperkuat lagi dengan peraturan pemerintah nomor 26 Tahun 2006 yang mengatur tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik. Pengelompokan bidang usaha ketenagalistrikan dibagi menjadi dua kelompok besar sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang ketenagalistrikan, yaitu usaha penyedia dan penunjang ketenagalistrikan. Usaha penyedia ketenagalistrikan terdiri dari Sistem usaha pembangkit tenaga listrik, sistem transmisi tenaga listrik, sistem distribusi tenaga listrik, dan sistem pemanfaatan tenaga listrik. Usaha penunjang ketenagalistrikan terdiri dari usaha jasa penunjang tenaga listrik dan usaha industri penunjang tenaga listrik. 
Secara umum, sistem tenaga listrik mulai dari pusat-pusat pembangkit menuju pusat-pusat beban, melalui sistem transmisi dan sitem distribusi tenaga listrik dapat dilihat pada gambar berikut ini:






Gambar 1. Sistem Tenaga Listrik





PLTA Cirata yang dapat membangkitkan listrik rata-rata sebesar 1.428 juta kilowatt       jam per tahun ini memanfaatkan potensi sungai Citarum yang letaknya di wilayah Kabupaten Bandung. Selain PLTA Cirata juga terdapat PLTA Saguling dan Jatiluhur yang memanfaatkan aliran Sungai Citarum. PLTA Cirata dibangun sejak bulan Januari 1984 merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. Pada akhir bulan September 1988 telah dapat dioperasikan dengan kapasitas penuh melalui kedelapan turbin dan generatornya total daya terpasang nya 1008 MW untuk 8 unit pembangkit ini. Karakteristik bendungan yang dibangun untuk pembangkit di Waduk Cirata ini bertipe urugan batu dengan permukaan berlapis beton sebagai bahan kedap air setinggi 125 meter, dengan ketinggian maksimum 223 meter di atas permukaaan laut. Waduk cirata ini dibangun dengan luas 62  km2 dengan elevasi muka air banjir 233 m, elevasi muka air normal 220 m dan elevasi muka ir terendah 205 m, sehingga volume air waduk 2.165 juta m3 dan isi efektif waduk 796 juta m3. Air waduk ini dikelola sedemikian rupa agar sedimen tidak mengganggu/ merusak mesin-mesin pembangkit.

Tenaga listrik ini diperoleh melalui proses yang terlihat pada gambar-gambar di bawah ini. Pertama-tama air masuk melalui saluran masuk (intake) melalui Headrace Tunnel sebelum memasuki surge tank (tangki peredam) sebagai penahan air sebelum air jatuh melalui penstock dengan ketinggian yang telah disesuaikan agar dihasilkan energi listrik dari energi potensial air yang memutar turbin dan selanjutnya generator mengubah energi kinetik turbin menjadi energi listrik. Generator dan turbin ini berada pada powerhouse.



Gambar 2. Proses Pembangkitan Tenaga Listrik PLTA Cirata



 Gambar 3. Pintu Pembuangan air


 Gambar 4. Pengatur buka tutup bendungan

 Gambar 5. Rumah generator dan turbin (powerhouse)


Operasi PLTA Cirata dikendalikan dari ruang kontrol di switchyard yang berjarak 2 km dari mesin-mesin pembangkit di rumah pembangkit (power house) yang berada di dalam tanah. Sistem tersebut dimungkinkan dengan adanya unit mikro processor ASCE (Automatic Sequnence Control Equipment) dan unit komputer SCE (Supervisory Control Equipment) yang berfungsi mengatur/ mengawasi jalanya mesin pembangkit. Pada bendungan cirata terdapat Dam Control Centre yang dilengkapi dengan Hydrological Monitoring Telemetering System yang berfungsi untuk memantau secara tepat waktu (Real Time) kondisi Hidrometeorogi di Catchment Area, tinggi muka air waduk, debit air yang masuk waduk, debit air yang masuk waduk, meramalkan banjir yang akan tiba, dan 
memberikan sinyal bila hujan yang masuk melebihi batas tertentu. Selain itu, ditempatkan 12 buah Discharge Warning Station yang digunakan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat bila air akan dikeluarkan dari waduk maupun dari pusat pembangkit.
Selain pengaturan operasional waduk, pengaturan sumber daya manusia yang bekerja di lingkungan PT.PJB ini juga merupakan kegiatan yang tidak dapat diabaikan. Dalam menjalankan kerja, prinsip safety first menjadi pedoman bagi karyawan. Selain itu, pola kerja 5s juga menjadi pedoman yang tidak kalah pentingnya. Filosofi 5s ini yaitu Seiri (Ringkas, yaitu buang yang tidak perlu), Seiton (Rapih, yaitu letakkan barang ditempatnya), Seiso (Resik, yaitu menjaga kelestarian barang), Seiketsu (Rawat, yaitu melakukan segala sesuatunya secara terus menerus) dan Seitsuke (rajin, membudayakan nya mulai dari diri kita sendiri) merupakan pola kerja yang diadopsi dari pola pikir jepang. Tujuan penerapan filosofi ini adalah untuk mencapai tempat kerja yang efektif dan prosedur kerja yang terstandardisasi. Dengan sistem pengelolaan yang terintegrasi ini, maka diharapkan PT.PJB Unit Cirata ini dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi setiap masyarakat.
PLTA Cirata merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Tetapi tetap memiliki unsur resiko yang besar pula. Dari sisi Geografis dengan kapasitas bendungan yang besar pada PLTA Cirata, maka terdapat resiko yang besar pula jika sewaktu-waktu terdapat kerusakan pada bendungan. 

Gambar 6. Peta lokasi bendungan cirata


Gambar di atas memperlihatkan posisi bendungan cirata yang berada di tengah antara bendungan saguling dan bendungan juanda. 

------------------------------------------------------------------